Apa Kabar Dunia |
- Wah, Nenek Moyang Kita Pemburu Kepala
- Bagaimana Asal-Usul Bedug?
- Mengapa Ngengat Doyan Makan Pakaian?
- Tips Membuat Ruangan Sempit Terlihat Lebih Luas
| Wah, Nenek Moyang Kita Pemburu Kepala Posted: 20 Feb 2014 12:28 AM PST Saya terkaget-kaget saat membaca majalah Historia yang isinya mengungkap sejarah kelam rakyat Nusantara tempo doeloe. Beberapa jurnal juga memuat hal yang sama. Pernah ada sebuah masa, ketika kebiadaban melekat erat jadi tradisi. Mungkin kasus ini jadi alat serang yang menyebut masyarakat primitif memang biadab, karena itulah koloni orang barat (kulit putih) datang merubah masyarakat jadi lebih beradab. Satu sisi yang ada benarnya, walau tidak mutlak. Nyatanya, mereka juga sama biadabnya - dalam bentuk berbeda. Kasus penaklukan Amerika dan Australia, atau kemudian era wild west jadi contoh nyata. Bagaimanapun, sejarah membantu kita belajar dari masa lalu, mengakui kesalahan, lalu mengambil hikmah untuk menjadi lebih baik di hari ini, dan masa depan. Kisah kelam yang saya maksud adalah, saat nenek moyang kita pernah jadi pemburu kepala manusia. Dan, perilaku ini menyebar dari Barat hingga Timur, dari Aceh hingga Papua. Demikian uraiannya. Aceh dan Sumatera Marco Polo ternyata pernah berkunjung ke Sumatera. Dilaporkan, ia sempat mengunjungi Perlak, bagian utara Sumatra, pada 1292. Di sana, dia melihat penduduk yang tinggal di pegunungan memakan daging manusia. Sangat berlawanan dengan penduduk yang tinggal di kota Perlak, di mana masyarakatnya lebih beradab, bahkan setelah berhubungan dengan pedagang-pedagang Islam, mereka berpindah dari menyembah berhala menjadi pengikut ajaran Muhammad. Dia menuliskan itu dalam catatan perjalanannya. Dia tahu catatannya akan mengejutkan, dan mungkin tak dipercaya banyak orang. Karena itu, dia sampai bersumpah untuk meyakinkan pembacanya. Selang lima bulan kemudian, Marco Polo menuju Pidie, daerah utara Sumatra lainnya. Di tempat ini, dia mendapati satu keluarga menyantap seluruh badan seorang anggota keluarganya sendiri yang mati karena sakit. "Saya yakinkan Anda bahwa mereka bahkan menyantap semua sumsum dalam tulang-tulang orang itu," tulis Marco Polo dalam "Para Kanibal dan Raja-Raja: Sumatera Utara Pada 1920-an" dimuat dalam Sumatera Tempo Doeloe karya Anthony Reid. Kalimantan Dalam naskah Sejarah Dinasti Ming (1368-1643) Buku 323, diceritakan sebuah suku pemburu kepala di Wu-long-li-dan, pedalaman Banjarmasin. Suku pemburu kepala itu disebut orang Beaju –Be-oa-jiu dalam lafal Hokkian (Fujian) selatan–, sebuah suku besar orang Dayak di pedalaman. Mereka berkeliaran saat malam hari untuk memenggal dan mengoleksi kepala manusia. "Kepala ini mereka bawa lari dan dihiasi dengan emas. Para pedagang sangat takut terhadap mereka," demikian dikutip W.P. Groeneveldt dalam Nusantara Dalam Catatan Tionghoa. Akhirnya sempat dibuat sebuah perjanjian antarsuku untuk menghentikan saling bunuh (habunu), memenggal kepala (hakayau), dan memperbudak (hajipen). Perjanjian pada 1894 itu termashyur dengan nama Rapat Damai Tumbang Anoi. Sebelumnya, beberapa suku di Borneo terkenal sebagai pemburu kepala musuh. Seorang penulis berkebangsaan Norwegia mengukuhkan citra itu melalui bukunya yang terbit pada 1881, The Head-Hunters of Borneo. Dalam bukunya ini, Carl Bock menuliskan suku-suku itu berburu kepala dengan mandau, tombak, dan perisai. Setelah mendapatkan kepala musuh, seseorang berhak mendapatkan tato simbol kedewasaan. Suku-suku di Borneo memiliki beragam alasan berburu kepala musuh seperti balas dendam, tanda kekuatan dan kebanggaan, pemurnian jiwa musuh, atau bentuk pertahanan diri. Ini karena Borneo dihuni oleh beragam suku sehingga tiap suku memiliki pandangan yang berbeda mengenai ngayau (memburu kepala). "Saya yakin tak ada satu pun analisis yang bisa menjelaskan dengan tepat praktik dan makna-makna perburuan kepala...," tulis Yekti Maunati dalam Identitas Dayak. "Di kalangan orang-orang Dayak sendiri terdapat berbagai kepercayaan dan mitologi." Sulawesi Sementara itu, di Sulawesi, perburuan kepala diketahui telah berlangsung sebelum kedatangan orang Belanda. Orang Toraja Bare'e yang bermukim di Sulawesi Tengah selalu mengambil kepala musuhnya dalam tiap peperangan mereka, selama memungkinkan. Mereka harus membunuh dan memotong kepala musuhnya dengan cepat agar musuh tak mengalami penderitaan yang lama. Kepala musuh kemudian dibawa ke kampung mereka. Upacara pun dilakukan. "Kepala diperlukan sebagai akhir masa berperang dan penahbisan di kuil sebagai tanda seseorang telah menjadi dewasa dan berani," tulis R.E. Downs dalam "Head-Hunting in Indonesia", Jurnal KITLV Vol. 111 No. 1 (1995). Perburuan kepala di Sulawesi masih berlangsung hingga kedatangan orang Eropa. Alfred Russel Wallace, naturalis tersohor asal Inggris, yang mengunjungi Manado pada 10 Juni 1859, mendapatkan cerita itu langsung dari penduduk lokal (Minahasa). Kepala manusia dipakai untuk menghiasi makam dan rumah. "Mereka berburu kepala manusia layaknya suku Dayak di Kalimantan... Ketika seorang kepala suku meninggal, dua potong kepala manusia yang baru dipenggal digunakan sebagai penghias makamnya... Tengkorak manusia merupakan hiasan yang paling disukai untuk rumah kepala suku," tulis Wallace dalam catatannya, dimuat dalam Indonesia Timur Tempo Doeloe 1544-1992 karya George Miller. Walaupun Wallace hidup di tengah penduduk pemburu kepala, Wallace merasa tak terancam. Bahkan, dia justru terkesan dengan karakter mental orang Minahasa. "Mereka juga memiliki karakter mental dan moral yang unik," tulis Wallace. "Pembawaan mereka tenang dan halus." Ambon Catatan sejarah memuat kisa perang antarkampung telah berlangsung berhari-hari di Seram di tahun 1648. Perang itu melibatkan orang-orang kampung di wilayah pantai dan orang gunung yang disebut Alifuru. Meski tak diketahui secara pasti, VOC (Vereenigde Oostindische Campaignie) melaporkan banyak korban tewas. Korban dari pihak wilayah pantai ditemukan tanpa kepala. Gubernur Ambon Robert Padtbrugge mengirim satu tim untuk mengusahakan perdamaian. Selain itu, dia meminta tim untuk meneliti adat berburu kepala orang Alifuru. Tim kembali ke Ambon tanpa hasil. Perang tetap berkobar. Dan mereka tak bisa menjelaskan secara pasti mengapa orang Alifuru memburu dan mengoleksi kepala musuhnya. "Di hadapan gubernur, tim itu melaporkan hasil penelitiannya mengenai kepercayaan orang Alifuru. Meski mengaku telah bekerja dengan baik, mereka tak berhasil menjelaskannya secara gamblang karena orang Alifuru sangat klenik. Mereka tak bisa memahaminya," tulis Gerrit J. Knaap dalam "The Saniri Tiga Air (Seram)", Jurnal KITLV Vol. 149 No. 2 (1993). Tim hanya mampu menjelaskan bahwa adat memburu kepala musuh merupakan bagian tak terpisahkan dari ritus hidup orang Alifuru tanpa diketahui kapan mulanya. Bagi orang Alifuru, memburu kepala musuh telah menempati posisi penting dalam kehidupan sosial dan kepercayaannya. Anehnya, adat itu tak mereka lakukan terhadap orang asing, baik Eropa maupun wilayah Nusantara lainnya. Penerimaan mereka terhadap orang asing sangat baik. Bahkan, mereka bersedia merundingkan perdamaian melalui perantara VOC meski usaha itu akhirnya gagal. -------- Uraian di atas merupakan kajian sejarah yang menarik. Bisa saja kita keturunan dari mereka. Tapi, seperti disebut dalam catatan Marco Polo: saat menerima kedatangan agama, contohnya Islam maka perilaku berubah jadi lebih beradab. Maka, apakah sekarang kita mau belajar memperbaiki atau malah terjebak mengulang kebiadaban seperti masa lalu? Bisa jadi, tafsir dan sentimen atas nama agama malah mengeluarkan kembali "gen biadab" lalu bertindak irrasional. Contoh nyata terlihat pada aksi gerombolan, ormas yang brutal, kan? Atau komentar penuh emosi di forum dan jejaring sosial internet. Bukankah kita lebih baik bertransformasi, jadi "pemburu kepala" yang mencari manusia-manusia pintar untuk memajukan teknologi sehingga sumber daya alam bisa digunakan optimal untuk kesetaheraan rakyat, dan jadi bangsa yang mandiri? | ||
| Posted: 19 Feb 2014 10:36 PM PST Hampir di seluruh wilayah Nusantara, seruan ketika waktu sholat tiba selalu dibuka dengan suara bedug. Kemudian barulah azan berkumandang. Bahkan, suara bedug sangat populer di bulan Ramadhan. Iya, kan? Ngaku, deh. Akhirnya, bedug pun jadi identik dengan agama islam. Pertanyaanya, sejak kapan dan bagaimana bedug hadir di tengah-tengah masyarakat Indonesia? Apakah seiring dengan perubahan kendaraan religius dalam sejarah, ketika kerajaan-kerajaan Hindu-Budha runtuh berganti dengan masuknya islam? Beberapa literatur meyakini bedug tiba di bumi Nusantara seiring kedatangan Cheng Ho. Laksamana muslim Kaisar Ming itu menginginkan suara bedug di masjid-masjid, seperti halnya penggunaan alat serupa di kuil-kuil Budha di Cina. Namun, menurut studi M. Dwi Cahyono, arkeolog dari Universitas Negeri Malang, bedug terkait dengan masa prasejarah Indonesia di mana nenek moyang kita sudah mengenal nekara dan moko, sejenis genderang dari perunggu yang dipakai dalam minta hujan. Kata Bedug juga sudah disinggung dalam Kidung Malat, sebuah karya sastra dari abad ke 14-16 Masehi. Dalam Kidung Malat dijelaskan bahwa bedug dibedakan antara bedug besar (teg-teg) dengan bedug ukuran biasa. Bedug pada masa itu berfungsi sebagai alat komunikasi dan penanda adanya perang, bencana alam atau hal mendesak lainnya. Dibunyikan pula untuk menandai tibanya waktu. Maka ada istilah Jawa yang mengatakan, "Wis wanci keteg." (sudah waktu siang). Kata "keteg" diambil dari saat teg-teg dibunyikan. Kendati demikian, pengaruh Cina tidak lantas dikesampingkan. Ditilik dari sisi konstruksi, teknik pemasangan tali dan pasak untuk merekatkan selaput getar ke resonator pada bedug Jawa mirip dengan cara yang digunakan pada bedug di Asia Timur, seperti Jepang, Cina atau Korea. Bukti lain terlihat pada penampilan arca terakota yang ditemukan di situs Trowulan. Arca-arca prajurit berwajah Mongoloid itu tampak menabuh tabang-tabang, sejenis genderang yang terpengaruh budaya Timur Tengah.
Kemungkinan itulah instrumen musik yang dimainkan orang-orang Cina Muslim di ibukota Majapahit. Menariknya, tabang-tabang sebenarnya merupakan instrumen musik yang sudah ada sejak masa Hindu-Budha. Di dalamnya ada pengaruh budaya India dan Semit Islam. Namun, diperkenalkan dan dimainkan oleh masyarakat Cina Muslim. Kesimpulannya, bedug bisa dikatakan contoh perwujudan akulturasi budaya waditra (instrumen musik membrafon) di mana secara fisiografis terjadi perpaduan antara waditra membrafon etnik Nusantara dengan wadistra sejenis dari luar, seperti India, Cina, dan Timur Tengah. Bedug akhirnya mem-budaya Cornelis De Houtman dalam catatan perjalanannya "D'eerste Boek" menjadi saksi atas keberadaan bedug yang sudah meluas pada abad ke-16. Ketika tiba di Banten, ia menggambarkan bahwa di setiap perempatan jalan terdapat genderang yang digantung dan dibunyikan memakai tongkat pemukul yang ditempatkan di sebelahnya. Fungsinya sebagai tanda bahaya dan penanda waktu. Kesaksian ini jelas merujuk pada bedug. Muktamar NU ke-11 tahun 1936 di Banjarmasin kembali mengukuhkan penggunaan bedug dan kentongan, bahwa pemakaian kedua alat tersebut di masjid-masjid sangat diperlukan untuk memperbesar syiar Islam. Sumber: kabarmasasilam Foto: | ||
| Mengapa Ngengat Doyan Makan Pakaian? Posted: 19 Feb 2014 08:00 PM PST Pernahkah kalian mendapati pakaian yang tersimpan di lemari tiba-tiba menjadi berlubang-lubang? Bisa jadi itu adalah ulah ngengat. Mengapa ngengat doyan memakan pakaian-pakaian kita? Kalau penasaran, yuk simak penjelasannya. ![]() Ngengat yang memakan pakaian bukanlah ngengat dewasa. Ngengat pakaian (Tineola bisselliella) hanya memiliki mulut pada waktu berbentuk larva atau ulat yang biasanya hanya berlangsung dari umur dua minggu hingga satu bulan. Mula-mula, ngengat betina akan menempatkan sejumlah telur yang telah dibuahi ke pakaian yang ia anggap tepat untuk keturunannya nanti. Pakaian seperti apakah yang ia anggap tepat? Pakaian yang terbuat dari sutra, wol, atau bahan-bahan yang mengandung keratin. Jumlah telur yang diletakkan disana berkisar antara 50 hingga 1000 butir. Wow, banyak juga ya. Setelah telur-telur itu menetas, maka larva-larva ngengat itu akan mulai menggerogoti pakaian. ![]() Telur ngengat sengaja diletakkan pada pakaian yang terbuat dari serat hewan, sutra, wol, kasmir, bulu, atau bahan-bahan lain yang mengandung keratin. Keratin tersusun dari protein struktural berserat yang juga dapat ditemukan pada rambut dan kulit. Oleh karena itu, kadang-kadang ngengat juga akan memakan kulit, bulu, atau gulungan rambut manusia dan hewan. Larva ngengat tidak menyukai kain sintetis dan katun karena kain sintetis dan katun tidak mengandung keratin. Karenanya, biasanya pakaian kita yang terbuat dari kedua bahan itu aman dari serangan ngengat, kecuali jika kedua bahan itu mengandung campuran serat hewan. Larva ngengat pakaian berbeda dengan ngengat lain, mereka membenci sesuatu yang terang dan lebih suka bersembunyi di dalam lemari tempat mereka diam-diam menyimpan larva mereka pada pakaian yang cocok. ![]() Tahukah kamu, bagaimana cara mengusir ngengat pakaian dari lemari kita? Tentu saja dengan memasang lampu di dalam lemari. Sumber : mamanunung | ||
| Tips Membuat Ruangan Sempit Terlihat Lebih Luas Posted: 19 Feb 2014 06:38 PM PST Anda ingin ruangan pada rumah tinggal atau apartemen Anda terlihat lebih luas? Berikut adalah beberapa tips agar ruangan sempit di rumah tinggal atau apartemen Anda terlihat lebih luas: 1. Tambahkan cermin Tambahkan cermin pada ruangan sempit Anda. Semakin besar cermin yang Anda gunakan, maka pantulan cermin akan membuat ruangan semakin terlihat besar. ![]() 2. Buat lantai dan perabot terlihat ringan Pilih warna yang terang dan terkesan ringan untuk lantai dan perabot. Contoh warna yang bisa digunakan warna putih, coklat muda, hijau muda, biru muda, dan lainnya. Anda bisa menambahkan warna cerah yang lain pada aksesoris ruang. ![]() 3. Alihkan perhatian ke ujung ruangan Buat banyak bukaan pada ruangan Anda. Arahkan perhatian orang pada ujung ruangan yang lain. Penggunaan lantai yang sama pada ruangan yang bersebelahan akan menambah kesan luas pada ruangan. ![]() 4. Tambahkan garis-garis vertikal Garis-garis vertikal pada dinding bisa membuat efek ruangan terlihat tinggi. Tidak perlu membuat seluruh dinding bergaris vertikal, cukup berikan sedikit saja garis vertikal seperti contoh di bawah ini. Ilusi ruangan dengan plafond yang tinggi sudah bisa tercipta. ![]() 5. Gunakan banyak material kaca Material kaca berpengaruh juga untuk menciptakan suasana ruangan yang ringan dan transparan. Sebisa mungkin buat banyak bukaan, perbesar jendela, buat satu ruangan terlihat menyambung dengan ruangan lain. ![]() 6. Ganti material berat Jika ruangan Anda memakai gorden, ganti dengan memilih blind seperti contoh di bawah. Gorden yang tebal terasa berat dan penuh pada ruangan yang sempit. ![]() 7. Cat dinding dengan warna muda Pilih warna yang muda atau pucat untuk dinding ruang sempit Anda. Warna muda akan membuat ruangan Anda terlihat segar dan tidak berat. ![]() 8. Furnitur multifungsi Pergunakan perabot seminimal mungkin, pilihan paling tepat adalah menggunakan furnitur dengan fungsi ganda. Perabot dengan fungsi ganda akan membuat ruangan Anda terasa lapang tapi semua benda tetap mempunyai tempatnya sendiri-sendiri. ![]() 9. Gunakan rak gantung Pilih rak gantung untuk membuat lantai tidak terlalu penuh. Lantai yang tidak banyak diletakkan perabotan, membuat ruangan terlihat lebih luas. ![]() 10. Atur pencahayaan yang baik Cahaya yang cukup dan tertata pada ruangan juga bisa mempengaruhi kesan keseluruhan pada ruangan tersebut. Jadi sangat disarankan agar Anda berinvestasi untuk menata pencahayaan pada ruangan Anda. ![]() Sumber : desaininterior |
| You are subscribed to email updates from Apa Kabar Dunia To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |


















Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan anda berkomentar, dan mari berbagi dan bertukar pengetahuan.
Namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar "SPAM"