Senin, 17 Februari 2014

Apa Kabar Dunia

Apa Kabar Dunia


Belajar dari Jamaika di Olimpiade Musim Dingin

Posted: 17 Feb 2014 12:47 AM PST

Jamaika, negara tanpa salju itu mengejutkan Olimpiade Musim Dingin 2014 di Sochi, Rusia. Walau masih gagal, mereka tak pernah menyerah.

 


Di tahun 1993 pernah dibuat film Cool Running, kisah nyata tentang atlet bobsledding (atau Bobsleigh, yakni cabang olahraga meluncur di salju dengan menggunakan kereta salju) asal Jamaika yang berhasil merekrut mantan atlet Amerika Irv Blitze jadi Pelatih. Setelah melalui berbagai perjuangan, tim ini akhirnya bisa berangkat ke arena olimpiade tahun 1988.

Semenjak itu, tradisi Bobsleigh terus melekat di Jamaika.  Tahun ini adalah untuk kedua kalinya mereka lolos ke Olimpiade Musim Dingin sejak 12 tahun lalu. Tim Jamaika selalu ditunggu karena film Cool Running yang sukses itu. Banyak yang ingin tahu apakah di dunia nyata mereka bisa membuat kejutan seperti itu. Untuk mendorong semangat, tim bobsleigh Jamaika tahun ini dinamakan Cool Running, The Second Generation.

 


Tim ini harus berjuang juga seperti pendahulunya hingga sampai di Sochi. Untuk berlatih di Evanston, Wyoming, AS, mereka membutuhkan dana yang tak sedikit. Pemerintah tak mampu memenuhi seluruhnya. Maka dicarikan dana. Dukungan datang dari sebuah komunitas bernama Dogecoin yang berhasil mengumpulkan dana dari masyarakat sebanyak US$30.000. 

Dana itu masih belum cukup karena kebutuhannya US$80.000. Lalu pihak lain menggalang dana online dan terkumpul sebanyak US$80.000. Total pengumpulan dana itu mencapai US$180.000. Dengan dana itu mereka berlaga di Sochi.

Meski gagal meraih medali, upaya mereka patut diacungi jempol. Negara ini begitu terobsesi menaklukan salju dalam cabang olahraga bobsleigh. Mungkin mereka ingin membuktikan pemeo, tak ada yang tak mungkin di dunia ini selama mau berusaha.

Bagaimana kita terinspirasi dari kisah ini?
















Sumber:
andriewongso

Pico Cão Grande, Gunung Terlangsing Seperti Menara

Posted: 16 Feb 2014 11:08 PM PST


Ensiklopedia Britannica mendefinisikan gunung sebagai sebuah bentuk tanah yang menonjol di atas wilayah sekitarnya. Tumpukan tanah biasanya memakan ruang yang luas. Syarat kedua, bisa disebut gunung bila tingginya lebih dari 2000 kaki (610 m).

Di Afrika, ada sebuah struktur menjulang nan unik. Orang menyebutnya Pico Cão Grande. Inilah gunung yang bentuknya tinggi seperti menara.

 

Mengacu pada syarat yang ditetapkan ensiklopedia, apakah Pico Cão Grande, atau Great Dog peak bisa disebut gunung? Bila diukur dengan daerah sekelilingnya hanya 300 meter, namun ukuran sesungguhnya  663 meter diatas permukaan laut. Maka masuk dalam kategori gunung, walau tak aktif.

Pico Cão Grande menjadi gunung unik karena kecuramannya di atas 80 derajat, layaknya sebuah gedung, gunung ini tidak memiliki kemiringan dalam ketinggiannya hingga disebut needle-shaped mountain.

 


Gunung ini adalah "plug vulkanik" di Bumi. Lebih mengesankan dari Devils Tower di Wyoming (386 m), karena gunung ini lebih curam dan kurus. Meskipun demikian, lebih sulit untuk memotret gunung ini dibandingkani Devils Tower: Puncaknya sering tersembunyi oleh awan atau hujan.

Tertarik mengunjunginya? Datanglah ke Republik Demokratik Sao Tome dan Principe, yakni negara pulau yang berbahasa Portugis terletak di Teluk Guinea, di lepas pantai barat khatulistiwa Afrika Tengah. Kira-kira 225 kilometer  lepas pantai barat laut Gabon.

 


Negara ini hanya terdiri  dari dua pulau: São Tomé dan Príncipe, terpisah sekitar 140 kilometer (87 mil). Kedua pulau ini adalah bagian dari rangkaian pegunungan yang tidak aktif. São Tomé, pulau selatan yang cukup besar, terletak tepat di utara khatulistiwa. Diberi nama untuk menghormati Santo Thomas dengan penjelajah Portugis yang tiba di pulau itu pada hari perayaannya.

Di pulau ini terdapat sebuah daerah kecil di bagian selatan yang dijadikan Daerah Taman Nasional. Daerah dilindungi tersebut  memiliki banyak banyak satwa dan tumbuhan langka. Nah, di dalam taman nasional inilah Pico Cão Grande berada.













Sumber:
universe

Suara Pembunuh di Laboratorium

Posted: 16 Feb 2014 09:18 PM PST

Di Belanda ada sebuah laboratorium milik Large European Acoustic. Laboratorium ini diklaim bisa membunuh manusia. Penyebabnya adalah suara mesin roket yang bisingnya setara dengan suara  1 ton bom TNT.

 


Lalu kenapa ilmuwan repot-repot membuat ruangan yang mereproduksi suara roket? ternyata ini berkaitan dengan program luar angkasa. Suara roket yang keras ternyata bisa merusak struktur satelit, untuk memastikan satelit bisa bertahan selama perjalanan ilmuwan mensimulasikan kondisi tersebut di dalam ruangan ini.

Jika sebuah satelit bisa rusak karena kerasnya suara roket pantas saja kalau LEA mengklaim manusia tidak bisa bertahan di dalam ruangan ini. Untungnya saja ruangan ini sudah dilengkapi pengaman khusus agar suara yang dihasilkan tidak keluar dari ruangan.

 



Ruangan ini memiliki tinggi 50 kaki, cukup ruang untuk menggantung sebuah satelit atau roket. Di sekelilingnya terdapat lubang-lubang yang merupakan speaker raksasa, di injeksi dengan gas Hidrogen, mampu menghasilkan suara sampai 154 desibel. Selama speaker menyala para ilmuwan mengecek Vibration Stress melalui kawat-kawat yang tersambung ke struktur satelit.












Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan anda berkomentar, dan mari berbagi dan bertukar pengetahuan.
Namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar "SPAM"